Kamis, 23 April 2015

PERBAIKAN FAKTOR DAYA

Faktor daya atau faktor kerja adalah perbandingan antara daya aktif (watt) dengan daya semu (VA), atau cosinus sudut antara daya aktif dan daya semu. Dibawah ini adalah gambar segitiga daya.


Dalam system listrik AC/ arus bolak balik ada tiga jenis daya yang dikenal, khususnya untuk beban yang memiliki impedansi (Z), yaitu:
1.    Daya semu (S, VA, Volt Amper)
2.    Daya aktif (P, W, Watt)
3.    Daya reaktif (Q, VAR, Volt Amper Reaktif)
 Penjelasan :
1.    Daya nyata/ P = adalah daya daya listrik yang digunakan untuk keperluan menggerakkan  mesin-mesin listrik atau peralatan lainnya.
2.    Daya semu / S = merupakan daya listrik yang melalui suatu penghantar transmisi atau distribusi. Daya ini merupakan hasil perkalian antara tegangan dan arus yang melalui penghantar.
3.    Daya reaktif / Q = Daya reaktif merupakan selisih antara daya semu yang masuk pada penghantar dengan daya aktif pada penghantar itu sendiri, dimana daya ini terpakai untuk daya mekanik dan panas. Daya reaktif ini adalah hasil kali antara besarnya arus dan tegangan yang dipengaruhi oleh faktor daya.
Rumus mencari daya nyata, daya reaktif, dan daya semu adalah.
fasa
S
P
Q
1
S = V * I
P = V * I * cosphi
P = V * I * sin phi
3
S =  * V * I
P =  * V * I * cosphi
P =  * V * I * sin phi


Faktor daya selalu lebih kecil atau sama dengan satu. Faktor daya terjadi akibat adanya konsumsi daya listrik oleh beban-beban induktif seperti motor, lampu TL, solenoid, trafo dan lain-lain.
Contoh soal:
Hitunglah daya aktif pada daya semu PLN dibawah ini, jika diketahui cosphinya adalah 0.8.
1.    900 VA
2.    1.300 VA
3.    2.200 VA
4.    3.500 VA
5.    5.500 VA

Jawabannya adalah:
1.    900 VA * 0,8 = 720 Watt
2.    1.300 VA * 0,8 = 1.040 Watt
3.    2.200 VA * 0,8 = 1.760 Watt
4.    3.500 VA * 0,8 = 2.800 Watt
5.    5.500 VA * 0,8 = 4.400 Watt

Jadi VA tidak sama dengan Watt

Kalaupun bisa lebih berarti peralatan listrik di rumah tidak banyak menggunakan bahan induktor, dan untuk menaikkan Cos Ø mendekati 1 digunakan kapasitor. Beban-beban induktif ini mengakibatkan pergeseran fasa arus sehingga bersifat lagging (arus tertinggal tegangan). Untuk memperbaiki factor daya diperlukan beban kapasitif. Pemasangan beban kapasitif ini menyebabkan arus leading (arus mendahului tegangan), sehingga mampu memperkecil sudut akibat pergeseran fasa arus yang lagging akibat pemakaian beban-beban induktif.

Contoh masalah:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhw4SS_FGAUPC1GsmSwW5gchFlXVdx9KQ8O5ojB8jgAimln9__iVR-dlIbP2GRAHVpFIM2lH6LPt4VvkOPk7m4jn8UIxCrpffY0HYtwEriclYPSR74Mu4Ur7TtRoyapsj7TmNMXKXiLulZ6/s400/faktor+daya+jpeg.jpg

Pembacaan alat ukur diatas adalah seperti tertera dalam gambar yaitu daya nyata P=1,6 KW dan arus menunjukkan 11,5 A. Kita gambarkan dalam segitiga daya seperti gambar dibawah

http://trikueni-desain-sistem.blogspot.com/2013/09/memperbaiki-faktor-daya.html

Dari data ini bisa di cari besarnya daya semu sebagai berikut:

Kemudian jika beban yang terpasang diatas adalah beban induktif, maka factor daya bersifat lagging (arus tertinggal tegangan). Untuk memperbaiki factor daya harus dipasang beban yang bersifat kapasitif.  Besarnya kapasitor yang akan dipasang parallel pada rangkaian dicari dengan menggunakan rumus dibawah ini.
Dimana X adalah reaktansi







Gambar rangkaian menjadi:
http://trikueni-desain-sistem.blogspot.com/2013/09/memperbaiki-faktor-daya.html
Analisis dilanjutkan berdasarkan besarnya kapasitor yang telah didapatkan. Hitung ulang, besarnya XC, arus, dan dan daya reaktif kapasitif.



Sehingga

http://trikueni-desain-sistem.blogspot.com/2013/09/memperbaiki-faktor-daya.htmldaya reaktif induktif – daya reaktif kapasitif = 1,96 KVAR – 1,945 KVAR = 0,1015 KVAR / 15 VAR.   

0 komentar:

Posting Komentar